Rasionalisasi kelompok 3.3
Rasionalisasi
Kebutuhan energi untuk seseorang
dapat dihitung menggunakan berbagai macam cara. Pada perhitungan kebutuhan
kalori atlet ini kami menggunakan rumus Mifflin. Kami menggunakan rumus mifflin
karena rumus ini memperhitungkan tinggi badan, usia, dan tingkat dari aktivitas
fisik seseorang. Berhubung kami menghitung kebutuhan atlet pada saat latihan
yang memiliki jadwal kegiatan berisi aktivitas fisik sehari-hari ditambah lebih
dari 60 menit aktifitas fisik moderat dan 60 menit aktifitas fisik berat , maka
kami mengambil tetapan antara 1,9-2,5 (Muth, 2015). Sehingga perhitungan
kebutuhan kalori kami menjadi. Sehingga perhitungan kebutuhan kalori kami
menjadi :
REE = 9,99 x berat (kg) + 6,25 x tinggi (cm) -
4,92 x usia (tahun) - 161
= 9,99 x 69
+ 6,25 x 174 + 4,92 x 21 - 161
= 1.719,13
Energi = 1.719,13 x 2 = 3.438 kkal
1. Variasi
menu 1 (110%) = 3781 kkal
2. Variasi
menu 2 (90%) = 3095 kkal
Atlet
membutuhkan konsumsi makanan yang memenuhi energi, makronutrien dan
mikronutrien yang mencukupi. Hal ini dibutuhkan untuk memaksimalkan hasil
latihan dan pemulihan pasca latihan. Rencana nutrisi olahraga yang optimal akan
berubah dari hari demi hari untuk mengakomodasi perubahan dalam pelatihan,
sasaran dan faktor lain yang berdampak pada atlet (Kerksick et al. 2017). Faktor-faktor lain
tersebut adalah keseimbangan makronutrien, preferensi makanan atlet, alergi
pada atlet, gaya hidup, motivasi dalam berolahraga, kontrol berat badan,
ketersediaan makanan, budaya, agama, biaya, dan pendapatan (Birkenhead & Slater, 2015) .
Atlet membutuhkan asupan energi,
makro dan mikronutrian yang mencukupi untuk kebutuhan latihan dan pertandingan.
Energi dan substrat lain yang dibutuhkan oleh atlet untuk memaksimalkan
kegiatan yang mereka lakukan dan pemulihan setelah kegiatan. Hal ini menjadi
penting untuk menentukan apa yang akan mereka makan sebelum, saat, dan setelah
latihan.
·
Karbohidrat
Saat
latihan atlet memerlukan energi yang tidak sedikit. Energi ini dapat diperoleh
dengan mengonsumsi karbohidrat, karbohidrat yang diperlukan atlet yaitu 60-70%
dari total energi. Namun banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi juga dipengaruhi
beratnya latihan. Zat ini disimpan di dalam otot dalam bentuk glikogen selama
60-90 menit. karbohidrat dicerna dalam tubuh selama kurang dari 1-3 jam.
Apabila jumlah karbohidrat yang dikonsumsi atlet kurang maka akan berdampak
pada kelelahan otot yang akan mengganggu performa atlet dalam latihan maupun
bertanding. Karbohidrat yang sebagian besar merupakan berbentuk karbohidrat
kompleks. Karbohidrat di bagi menjadi 3
macam yaitu: a) Monosakarida (glukosa dan fruktosa), b) Disakarida ( sukrosa
dan maltosa), c) Polysakarida (tepung dan glikogen). Semua macam karbohidrat
sebelum diserap akan dijadikan glukosa. Contoh makanan tinggi karbohidrat
seperti sereal , roti , pasta , nasi , buah-buahan , sayuran dan
kacang-kacangan.
Menurut Burke et al. (2011)
karbohidrat merupakan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk atlet
bisa mendapatkan asupan energi. Ada beberapa metode untuk mengukur kebutuhan
karbohidrat atlet, seperti :
a.
Latihan ringan : 3-5 g/kgBB/hari
b.
Latihan sedang : 5-7 g/kgBB/hari
c.
Latihan berat : 6-10 g/kgBB/hari
d.
Latihan sangat berat : 8-12 g/kgBB/hari
Kami
mengambil nilai hitungan maksimum kebutuhan karbohidrat atlet yaitu 7,0
gr/KgBB/hari yaitu 483 gram. Total jumlah karbohidrat untuk variasi menu
pertama adalah 482 gram. Kami memberikan karbohidrat lebih tinggi karena atlet
memiliki program latihan yang padat dan menggunakan karbohidrat sebagai energi
utama dalam latihan. Karbohidrat diberikan pada setiap makan besar dan 2 jam
sebelum bertanding guna memberikan energi pada atlet.
Untuk variasi kedua kami
mengambil hitungan 6 g/kgBB/hari, dengan target 414 kkal kami memberikan input
sebesar 425 kkal. Kami menambah sekitar 10% karena program latihan yang
dijalani dalam satu hari adalah 3 kali latihan dengan durasi total 4 jam dnegan
pola aerobik-anerobik-conditioning. Penambahan ini untuk mengantisipasi agar
atlet tidak kekurangan sumber energi. Kami memberikan karbohidrat setiap makan
besar dan snack sebelum bertanding dengan interval waktu 2 jam serta segera
setelah latihan sesuai yang direkomendasikan di buku Sports Nutrition for
Health Professionals.
·
Protein
Protein dibutuhkan oleh tubuh untuk
pertumbuhan, perkembangan dan pembentukan otot, pembentukan sel darah merah,
pertahanan tubuh terhadap penyakit, enzim dan hormon serta sintesa jaringan
badan lainnya. Protein dapat menjadi sumber energi untuk atlet bila karbohidrat
tidak mencukupi ketika melakukan latihan fisik intensif. Menurut Jäger et al.
(2017) kebutuhan harian untuk atlet adalah 1,4-2,0 g/kgBB/hari. Intake
protein yang tinggi dibutuhkan untuk atlet yang membutuhkan energi tinggi dan
untuk menjaga massa otot atlet tersebut. Contoh makanan dengan protein
berkualitas tinggi misalnya daging ayam, sapi, telur, ikan, produk susu serta
biji-bijian. Namun pada pemilihan menu makanan, telur tidak dipilih menjadi
menu makanan atlet karena atlet tersebut alergi terhadap telur. Selain menjadi
makanan kesukaan atlet, sebagai pengganti sumber protein tinggi ikan menjadi
salah satu pilihan untuk menu makanan atlet. Kami mengambil nilai hitungan
kebutuhan protein atlet yaitu 2,0 gr/KgBB/hari yaitu 138 gram. Total jumlah
protein untuk variasi menu pertama adalah 137,5 g. Sedangkan untuk variasi menu
kedua jumlahnya 147 gram. Protein yang kami berikan lebih tinggi karena sebagai
pemenuhan kebutuhan dan untuk asupan nutrisi dalam rangka meminimalisir
terjadinya DOMS pada atlet.
·
Lemak
Kebutuhan
rekomendasi lemak untuk atlet tergantung dari masing-masing individu ingin
mencapai kompoisi badan seperti apa dan bagaimana intensitas latihan yang
dijalani oleh atlet itu sendiri. Total lemak yang terdapat pada variasi menu
pertama dan kedua yaitu sebanyak 101 gram. Kami menurunkan lemak 16% dari
kebutuhan karena kami tidak ingin membuat berat badan dari atlet gulat ini
bertambah karena intake lemak. Berat badan atlet gulat ini ingin kami
pertahankan untuk tetap stabil. Apabila ingin dinaikkan kami merekomendasikan
menaikkan berat badan dengan menaikkan massa otot. Lemak dibutuhkan tubuh
sebagai sumber energi yang berjangka waktu lama. Lemak yang dikonsumsi tidak
boleh yang mengandung tinggi lemak dan tidak dianjurkan dikonsumsi sebelum dan
selama latihan karena lemak sulit untuk dicerna sehingga akan lama tinggal di
dalam perut.
·
Air
Air
merupakan salah satu komponen besar tubuh dengan proporsi mencapai 60-70% berat
badan dewasa. Selama pertandingan penting untuk memperhatikan cadangan cairan
tubuh. keadaan dehidrasi, gangguan keseimbanga air dan elektrolit dapa
menimbulkan kelelahan dan membahayakan bagi atlet. kehilangan air lebih dari
4-5% dari berat badan dapat mempengaruhi penampilan atlet saat bertanding.
Dehidrasi berat dapat menyebabkan temperatur tubuh meningkat dan mengarah pada
heat stroke yang akan berakibat fatal. Ketika atlet melakukan megiatan
endurance harus menyadari pentingnya minum air selama latihan dan setelah
latihan walaupun tidak merasa haus. Pemenuhan cairan sebelum olahraga pada
atlet adalah sebanyak 552 ml, sedangkan selama olahraga adalah 710 ml dan
setelah atlet olahraga adalah 3.600 m.l.
Mikronutrien
·
Zinc
Intake Zinc yang kurang
berhubungan dengan penurunan fungsi kardiovaskuler, kekuatan otot dan endurance. Zinc dapat berkurang lewat
ekskresi keringat dan urin. Namun, atlet tidak boleh kelebihan konsumsi zinc
karena dapat menurunkan kolesterol HDL dan mengganggu absorbsi zat besi.
·
Vitamin E
Atlet endurance dapat mengalami pengingkatan kebutuhan vitamin E. Vitamin
E mengurangi peroksidasi selama olahraga aerobik dan dapat mengurangi kerusakan
DNA. Namun, jika konsumsi vitamin E lebih dari batas atas yang dapat
ditoleransi, maka dapat menjadi pro-oxidative dibandingkan dengan
anti-oxidative, yang dapat menyebabkan efek berbahaya.
·
Vitamin B
Vitamin B dibutuhkan untuk
produksi energi, sintesis protein dan asam lemak, dan metabolisme karbohidrat.
Dua vitamin B yang paling penting adalah vitamin B12 dan folat. Defisiensi dari
dua vitamin ini dapat menyebabkan anemia yang mengganggu kemampuan sel darah
untuk mengantarkan oksigen ke sel yang bekerja dan memberi dampak buruk pada
performa endurance atlet.
·
Magnesium
Intake magnesium yang rendah
sering terjadi pada pegulat yang butuh endurance
aerobik. Magnesium merupakan
komponen penting untuk ribuan reaksi biokimiawi yang penting termasuk
pengubahan glukosa ke glikogen, dan metabolisme glukosa, asam amino, dan asam
lemak untuk memproduksi energi.
·
Zat besi
Zat besi memiliki peranan
penting dalam proses transport oksigen ke sel yang bekerja. Jika kekurangan zat
besi, maka akan kapasitas aerobik akan terbatas. Jika kekurangan zat besi tidak
diperbaiki, makan akan menjadi anemia defisiensi besi.
·
Elektrolit
Penambahan elektrolit merupakan
hal yang penting bagi atlet endurance terutama
yang kehilangan banyak keringat. Atlet yang melakukan aktivitas endurance lebih dari 1-2 jam
direkomendasikan untuk mengkonsumsi sport
drink dengan natrium minimal 0,5-0,7 g/L dan kalium minimal 0,8-2 g/L (Belski, Forsyth, & Mantzioris, 2019; Muth, 2015) .
DAFTAR
PUSTAKA
Belski, R., Forsyth, A., & Mantzioris, E. (2019). Nutrition for Sport, Exercise, and
Performance. Crows Nest: Allen & Unwin.
Birkenhead, K., & Slater, G. (2015). A Review of
Factors Influencing Athletes' Food Choices. Sports Med, 1511-1522.
Burke, L.M., Hawley, J.A., Wong, S.H. et al., 2011,
‘Carbohydrates for training and competition’, Journal of Sports Sciences,
vol. 29, suppl. 1, pp. S17–27.
Jäger, R., Kerksick, C.M., Campbell, B.I. et al., 2017,
‘International Society of Sports Nutrition position stand: Protein and
exercise’, Journal of the International Society of Sports Nutrition,
vol. 14, suppl 2, p. 20.
Kordi, R., Ziaee, V., Rostami, M., & Wallace, W. A.
(2012). Sports injuries and health problems among wrestlers in Tehran . J Pak Med Assoc, 204-208.
Muth, Natalie Digate. (2015). Sports Nutrition for Health
Professionals. Philadelphia : F.A. Davis Company.
Özal, M. (2014). Effects of a Year Long Wrestling Training
Season on Biochemical Blood Parameters of Elite Wrestlers. Anthropologist, 691-696 .
Vitale, K., & Getzin, A. (2019). Nutrition and
Supplement Update for the Endurance Athlete: Review and Recommendations. Nutrients, 1-20.
Selamat sore teman - teman kelompok 3.3. Saya Maria Grace (41160010) dari kelompok 1.4.
ReplyDeleteMau bertanya untuk menghitung kalorinya, ketika kita menghitung untuk kebutuhan kalori saat latihan, apakah melihat intensitas latihan itu sudah cukup atau perlu memperhatikan spesifikasi latihannya (seperti: jogging) ?
Terima kasih
Sore Maria Grace, saya Joshua Hariara (41160016) mewakili kelompok 3,3 menjawab pertanyaan saudari. Jadi untuk kebutuhan kalori sudah kami sesuaikan dengan spesifikasi latihan, pada jadwal yang kami buat atlet memiliki jadwal latihan berupa aktivitas fisik moderate yaitu jogging selama 2 jam ditambah latihan tanding yang merupakan aktivitas fisik berat selama 1 jam ditambah dengan latihan conditioning selama 3 jam yang menjadikan kegiatan latihan keseluruhan atlet termasuk dalam kategori sangat aktif sesuai dengan kriteria penentuan physical activity factor yang tersedia, terima kasih.
DeleteSelamat sore teman-teman kelompok 3.3
ReplyDeleteSaya Vace Liansia (41160020) dari kelompok 1.4 ingin bertanya mengenai perhitungan kalori atlet. Apakah faktor aktivitas gulat dapat mempengaruhi kebutuhan kalori ? apabila mempengaruhi, apakah juga akan mempengaruhi pada kebutuhan cairan atlet?
Terimakasih
Selamat siang Vace,
DeleteSaya Riko Arundito 41160065,
Mencoba menjawab pertanyaan diatas, jadi kebutuhan asupan sebenarnya akan sangat berkaitan dengan aktivitas yang dijalani. Pada olahraga gulat dijelaskan ada waktu-waktu tersendiri yaitu pre-season, saat pertandingan, saat kompetisi, dan istirahat. Semua ini memiliki perbadaan dalam perbedaan kalori yang dibutuhkan karena gulat memiliki kelas-kelas beratnya. Jadi apabila tidak sedang berkompetisi tentu akan lebih mengarah pada bagaimana menjaga berat badan dan komposisi tubuh. Apabila sedang banyak pertandingan maka akan dijaga untuk kebugaran dan kekuatan terutama apabila di kompetisi khusus seperti olimpiade yang jarakhanya memiliki tanding 2-3 hari.
Terima kasih atas pertanyaannya vace, saya Hana Kristina (41160081) mewakili kelompok 3.3 hendak menjawab pertanyaan kedua mengenai kebutuhan cairan atlet. Aktivitas gulat dapat mempengaruhi kebutuhan cairan atlet secara tidak langsung dimana kebutuhan cairan tergantung pada jumlah cairan yang keluar dari tubuh terutama lewat keringat dan jumlah cairan yang keluar ini tergantung pada aktivitas yang dilakukan. Terima kasih.
DeleteSelamat sore teman teman kelompok 3.3
ReplyDeleteSaya Stefanus Wiguna (41160049)
saya ingin bertanya di bagian rasionalisasi, bahwa atlit membutuhkan asupan energi. makro dan mikronutrien yang mencukupi untuk kebutuhan latihan dan pertandingan. Asupan mikronutrien apa yang dibutuhkan oleh atlit? apakah ada standar perhitungan untuk menghitung kecukupan mikronutrien bagi atlit?.
Terimakasih
Saya dari kelompok 1.6. terimakasih.
DeleteThis comment has been removed by the author.
DeleteSelamat siang Stefanus, saya Serapina Aolina S. (41160080) mewakili kelompok 3.3 akan mencoba menjawab.
DeleteKebutuhan gizi atlit harus terpenuhi baik kebutuhan makronutrien maupun kebutuhan mikronutrien. Kebutuhan mikronutrien bagi atlet juga akan membatu kinerja optimal dari para atlet. Kebutuhan mikronutrien bagi atlet wanita adalah kalsium, magnesium, asam folat, zat besi dan vitamin. Namun untuk standar perhitungan kecukupan mikronutrien bagi atlit saya belum menemukan.
Terima kasih Stefanus atas pertanyaannya. Saya Maharani Dyah K (41160095) dari kelompok 3.3 akan mencoba menjawab.
DeleteMikronutrien dibutuhkan tubuh dalam jumlah sangat kecil dan cukup didapatkan dalam makanan sehari-hari. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil, namun memiliki peranan yang sangat penting, dan tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Pada atlet, vitamin dan mineral memainkan peranan yaitu memberikan sistem imun yang cukup, dan membantu proses perbaikan jaringan otot pada saat pemulihan dari cedera. Semakin tinggi intensitas latihan seorang atlet, maka kebutuhan vitamin dan mineralnya juga semakin meningkat. Oleh sebab itulah, diperlukan asupan vitamin dan mineral yang lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral pada atlet. Vitamin dan mineral yang paling penting dalam diet atlet antara lain berupa kalsium dan vitamin D, vitaminvitamin B, zat besi, seng, magnesium, vitamins A-karoten, C, dan E, dan selenium.
Terima kasih
Ijin menambahkan sumber, untuk informasi lebih lengkap dapat dibaca pada:
DeletePrayogo, W. R. (2012). Studi Kecukupan Gizi Dan Keseimbangan Energi Atlet Putra Pb Djarum Kudus Studies on the Nutritional Adequacy and Energy.
selamat siang stefanus, saya Puspa Dewi Meok nim 41160054 dari kelompok 3.3, ijin menjawab untuk pertanyaan standar perhitungan mikronutrien bagi atlit. saya sangat setuju dengan jawaban yang disampaikan oleh teman saya di atas bahwa untuk mikronutrien sangat dibutuhkan walaupun jumlah yang dibutuhkan dalam jumlah kecil. untuk standar perhitungan mikronutrien bagi atlit sendiri menurut saya belum ada jawaban yang spesifik terkait untuk standar perhtungan dikarenakan jumlah mikronutrien bergantung pada aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh atlit tersebut.
DeleteSelamat malam teman-teman.
ReplyDeleteSaya ingin bertanya mengenai variasi menu pertama. Pada snack setelah latihan (sore hari) diberikan sosis yang merupakan sumber protein dengan lemak tinggi. Pada rasionalisasi teman-teman mengatakan bahwa lemak yang dikonsumsi tidak boleh yang mengandung tinggi lemak. Saya kurang mengerti dengan kalimat tersebut. Apakah ternyata lemak pada sosis merupakan lemak tak jenuh? Terima kasih.
Weinny Christi (41150003) Kelompok 1.2
Selamat malam, terima kasih untuk pertanyaannya,
DeleteSaya Joshua Hariara (41160016) ingin mencoba menjawab.
Untuk pernyataan tidak boleh tinggi lemak pada makanan maksudny adalah tinggi lemak pada menu/seluruh makanan. Rasionalisasi kami terhadal konsumsi lemak adalah kadar lemak dalam menu tidak boleh melebihi rekomendasi dari kebutuhan lemak yang telah dihitung.
Untuk sosis kita mengambil dari buku biru yang termasuk dari golongan sumber protein dengan kadar lemak tinggi namun tidak disebutkan apakah lemak dalam sosis tersebut jenuh atau tidak.
Terima kasih
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya Maharani Dyah K (41160095) dari kelompok 3.3 akan mencoba menjawab pertanyaan.
DeleteProses pemasakan juga akan mempengaruhi dari kadar lemak dimana semakin tinggi temperatur pemasakan akan menyebabkan suatu produk menjadi semakin porous (berpori) dan emulsinya dapat pecah sehingga menyebabkan kadar air dan kadar lemak menurun karena lemak yang berada di dalam sosis dapat keluar karena temperatur pemasakan yang lebih tinggi terutama pada steaming seperti pada penyusunan menu makanan.
ijin menambahkan sumber, untuk informasi lebih lengkap dapat dibaca:
DeleteManansang, G. R., Rumampuk, J. F., & Moningka, M. E. W. (2018). Perbandingan Tekanan Darah Sebelum dan Sesudah Olahraga Angkat Berat. Jurnal E-Biomedik, 6(2). https://doi.org/10.35790/ebm.6.2.2018.21585
Halo teman-teman kelompok 3.3, pada tulisan diatas disebutkan bahwa teman-teman ingin mempertahankan berat badan atlit untuk tetap stabil dengan menurunkan intake lemak 16% dari kebutuhan. Nah selain menurunkan atau membatasi intake lemak, hal apa lagi yg bisa teman-teman mempertimbangkan dalam penyusunan menu agar BB atlit tetap dalam keadaan stabil ?
ReplyDeleteSaya juga ingin bertanya terkait penjelasan rasionalisasi dari mikronutrien, soalnya belum dijelaskan pada tulisan teman2 diatas karena sebelumnya teman-teman menuliskan bahwa “Atlet membutuhkan asupan energi, makro dan mikronutrian yang mencukupi untuk kebutuhan latihan dan pertandingan” tapi yang baru dijelaskan cuman terkait makronutriennya saja
Terima kasih atas penjelasannya
Rambu Imel (41160084)
Terima kasih atas pertanyaannya imel, saya Hana Kristina (41160081) mewakili kelompok 3.3 akan menjawab pertanyaan kedua mengenai penjelasan mikronutrien. Untuk rasionalisasi mikronutrien sudah kami revisi pada postingan. Terima kasih atas masukan yang diberikan.
DeleteTerima kasih atas pertanyaannya. Saya Maharani Dyah K (41160095) dari kelompok 3.3 akan mencoba menjawab.
DeletePenyusunan menu agar BB atlit tetap dalam keadaan stabil dapat dilakukan dengan menenentukan status gizi atlet dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) dan presentase lemak tubuh. IMT dan presentasi lemak tubuh harus dipantau dengan baik,selain itu juga harus perhatikan keseimbangan antara keluaran energi untuk latihan sehari-hari dengan masukan energi yang berasal dari asupan makanan, dengan cara tersebut berat badan dapat dikendalikan. Selain itu perhitungan kalori menggunakan faktor aktifitas fisik, hal ini tergatung dari FITT (Frequency, Intensitas, Time, Tipe) yang dilakukan atlet sehingga konsumsi dan kebutuhan atlet akan terjaga.
Sumber: Program Diet Untuk Mengendalikan Berat Badan Olah Ragawan Menuju Puncak Prestasi oleh Djoko Pekik Irianto
saya Puspa Dewi Meok (41160054) menambahkan jawaban selain di atas, juga harus diperhatikan dari segi umur dan tinggi badan atlet karena berhubungan juga dengan penyusunan asupan makanan, semakin bertambah usia maka akan berpengaruh pada komposisi tubuh. terimakasih
DeleteSelamat sore teman-teman kelompok 3.3.
ReplyDeleteSaya Debby Kurniawan NIM 41160030 dari kelompok 3.1
Saya ingin bertanya, pada menu makanan A dan B dijadwalkan setelah latihan untuk langsung makan. Apakah hal tersebut memang di perbolehkan untuk atlet ?
Terima kasih
Selamat siang Debby,
DeleteSaya Riko Arundito 41160065 dari kelompok 3.3
Dari sumber yang kami baca, mengacu pada buku wajib yang diberikan berjudul "nutrition for sports exrcise and performance" memang dianjurkan untuk mengonsumsi protein yang dikombinasikan dengan karbo langsung setelah olahraga untuk menggantikan energi yang dihabiskan selama latihan dan meningkatkan respon otot terutama untuk memperkuat otot setelah digunakan. Hal ini juga dapat menurunkan risiko untuk terjadinya DOMS.
Terima kasih debby atas pertanyaannya, saya Hana Kristina (41160081) hendak mewakili kelompok 3.3 untuk menjawab. Pada menu makan A dan B setelah latihan yang dikonsumsi adalah snack. Sedangkan untuk makan berat dikonsumsi setelah atlet istirahat. Snack digunakan untuk membantu pemulihan dalam 30 menit pertama pasca-latihan.
DeleteSelamat malam teman-teman kelompok 3.3. Saya Raven NIM 41160059. Ijin untuk bertanya
ReplyDeleteApabila saya tidak salah, Ani merupakan atlet gulat putri. Dalam memilih nutrisi yang diberikan, apakah atlet gulat putri diperbolehkan/perlu mengkonsumsi minuman/suplemen tambahan seperti whey protein?
Terimakasih
Selamat siang Raven,
DeleteSaya Riko Arundito 41160065.
Penambahan protein tentu tergantung tujuannya apa, apabila memang dari komposisi tubuh dan massa otot ingin ditambahkan maka protein whey bisa digunakan. Namun apabila sudah mencukupi tidak digunakan juga tidak apa-apa karena apabila berlebih bisa menambah berat dari atlet tersebut padahal dia memiliki kelas tanding dengan berat yang sudah ditentukan.
baik, terimakasih atas jawaban yang diberikan ya! salam sehat!
DeleteSelamat pagi kelompok 3.3 saya ian (41160088) pada paparan teman-teman diatas ada tertulis "Rencana nutrisi olahraga yang optimal akan berubah dari hari demi hari untuk mengakomodasi perubahan dalam pelatihan, sasaran dan faktor lain yang berdampak pada atlet." Faktor lain seperti apa yang dimaksud dalam kalimat tsb ? terima kasih.
ReplyDeleteTerima kasih ian atas pertanyaannya, saya Hana Kristina (41160081) hendak mewakili kelompok 3.3 untuk menjawab. Faktor lain yang dimaksud adalah keseimbangan makronutrien, preferensi makanan atlet, alergi pada atlet, gaya hidup, motivasi dalam berolahraga, kontrol berat badan, ketersediaan makanan, budaya, agama, biaya, dan pendapatan
DeleteSaya hana kristina (41160081) mewakili kelompok 3.3 menginformasikan bahwa faktor lain sudah kami tambahkan sebagai revisi dalam postingan. Terima kasih atas masukannya.
DeleteTerima kasih hana dan kelompok 3.3 🙏🙏
DeleteSaya Hana Kristina (41160081) hendak menambahkan sumber untuk jawaban saya.
DeleteBirkenhead, K., & Slater, G. (2015). A Review of Factors Influencing Athletes' Food Choices. Sports Med, 1511-1522.
Terima kasih
Kepada kelompok 3.3
ReplyDeleteIzin bertanya,
Disebutkan bahwa atlet pernah mengalami DOMS dan sudah sprain 2x.
Bagaimana cara mengatasi DOMS dari segi menu diet yang disusun? Apakah ada pengaruh antara cedera (seperti sprain) dengan pemilihan makanan?
Terima kasih.
Vanessa Veronica
41160062
Selamat sore Vanessa, Saya Riko Arundito 41160065 mencoba menjawab,
DeleteDari kelompok kami sendiri untuk mencegah terjadinya DOMS lagi adalah dengan memberikan asupan protein terutama setelah olahraga agar aktivitas otot tetap terjaga dan terus berkembang agar otot semakin kuat untuk bisa bertahan dan meminimalisir dari kejadian DOMS
This comment has been removed by the author.
DeleteTerima kasih atas pertanyaannya Vanessa, Saya Hana Kristina (41160081) mewakili kelompok 3.3 untuk menjawab pertanyaan kedua mengenai sprain. Makanan yang dapat membantu penyembuhan ligamen pada penyakit seperti sprain adalah makanan yang mengandung vitamin C, glisin, copper, atau kolagen yang terhidrolisasi Terima kasih.
DeleteSumber :
Close, G. L., Baar, K., Bermon, S., & Sale, C. (2019). Nutrition for the Prevention and Treatment of Injuries in Track and Field Athletes. IJSNEM, 189-197.
Informasi yang sangat bermanfaat. Perkenalkan saya Reynaldy Marpaung 41160069.
ReplyDeleteIjin bertanya diketahui dari rasionalisasi kelompok 3.3, bahwa dalam penyusunan menu, pada asupan protein diberikan cukup tinggi untuk meminimalisir terjadinya DOMS, mungkin bisa dijelaskan mekanismenya ?
Terimakasih.
Saya Maharani Dyah K (41160095) dari kelompok 3.3 akan mencoba menjawab.
DeleteDOMS merupakan kerusakan yang terjadi pada struktur protein kontraktil otot (aktin dan myosin) sehingga mengganggu kinerja otot untuk menghasilkan gerakan.Terjadinya DOMS akan direspon tubuh dengan melakukan inflamasi sebagai upaya awal untuk memulai proses penyembuhan. Kejadian inflamasi ditandai dengan adanya rangsangan nyeri yang dirasakan penderita (Rakasiwi, 2013)
DOMS dapat dihindari dengan konsumsi protein karena pada protein terdapat asam amino yang bedampak pada pertumbuhan dan perbaikan otot sehingga dapat menurunkan DOMS dengan mempercepat penyembuhan. Sebuah triplet unik dari asam amino, yang disebut Branched Chain Amino Acids (BCAAs)menunjukkan peningkatkan pemulihan otot dan mendorong pertumbuhan. Yakni, asam amino ini adalah isoleusin, leusin, dan valin.Dengan mengonsumsi protein dapat meningkatkan kadar asam amino yang beredar di aliran darah sehingga tubuh memiliki ketersediaan asam amino yang lebih besar meningkatkan sintesis protein dalam tubuh dan mengurangi pemecahan protein. Perubahan ini meningkatkan keseimbangan net protein balance.Brown, M. A., Stevenson, E. J., & Howatson, G. (2018)
Ijin menambahkan sumber, untuk informasi lebih lanjut dapat dibaca pada:
DeleteBrown, M. A., Stevenson, E. J., & Howatson, G. (2018). Whey protein hydrolysate supplementation accelerates recovery from exercise-induced muscle damage in females. Applied Physiology, Nutrition, and Metabolism, 43(4), 324–330. doi:10.1139/apnm-2017-0412
terimakasih Aldy, saya menambahkan bahwa perlu diketahui juga olahraga yang sering menyebabkan terjadinya DOMS adalah yang bersifat eksentrik oleh sebab itu, olahraga yang bersifat eksentrik harus lebih diperhatikan lagi terkait asupan protein yang diberikan untuk menghindari terjadinya DOMS yang berlebih. terimakasih
DeleteTerimakasih saudari Maharani dan Puspa atas penjelasannya. Salam sehat :)
Deletesudah bagus
ReplyDeleteSelamat pagi teman-teman kelompok 3.3
ReplyDeleteSaya Herose Cendrasilvinia
(NIM 41160087)
Saya ingin bertanya, jika konsumsi lemak dikurangi dibawah 16 % apakah akan menimbulkan dampak buruk pada atlet?
Terimakasih teman-teman
Pagi herose
DeleteTidak, kebutuhan atlet terhadap nutrisi lemak sama dengan populasi pada umumnya yaitu 20%-35% dari jumlah kebutuhan energi. Jika kebutuhan total energi dari lemak dikurangi 16% tetap masih pads rentang normal dan secara umum tidak menimbulkan dampak buruk.
Terima kasih
This comment has been removed by a blog administrator.
DeleteTerimakasih kelompok 3.3
ReplyDeleteSaya telah membaca makalah utama kelompok 3.3 sebelumnya. Skenario yang dijadikan acuan, atlet alergi telur dan suka ikan.
Menu yang dibuatkan ada yang menggunakan biskuit dimana biskuit dalam pembuatannya menggunakan campuran telur. Apakah ini akan menjadi pemicu timbulnya alergi ?
Lalu dikarenakan atlet suka mengonsumsi ikan, apakah menu yang dipilihkan mengharuskan dengan minimal 2x menu ikan dalam sehari ?
Terimakasih
Sebelumnya, terima kasih atas pertanyaannya Dian. Saya Maharani Dyah K (41160095) dari kelompok 3 akan mencoba menjawab pertanyaan.
DeleteTelur merupakan makanan yang kaya nutrisi dengan vitamin, mineral, protein, lemak baik. Sedangkan putih telur hanya mengandung protein. Protein yang terkandung di dalam telur seperti ovomucoid, ocoalbumin, dan conalbumin dapat menyebabkan timbulnya reaksi alergi. Protein inilah yang rentan membuat imun tubuh salah mengidentifikasi dan menganggapnya berbahaya sehingga tubuh dapat melepaskan antibodi immunoglobulin E untuk melawan protein. Namun, proses pemasakan telur dengan menggoreng, merebus, atau menjadikannya bahan dalam membuat kue dapat mengubah struktur protein pemicu alergi. Tubuh bisa saja tak lagi melihatnya sebagai substansi berbahaya sehingga tak ada reaksi alergi apapun. Sebagai contoh, 70% orang yang alergi telur tetap bisa mentoleransi makan biskuit atau kue yang mengandung telur di dalamnya. Pada beberapa orang, alergi terhadap telur hanya muncul jika dikonsumsi mentah atau setengah matang.
Untuk pemilihan menu ikan sendiri tidak dibatasi, karena pada atlet tidak mengalami alergi terhadap ikan. Kelompok kami memilih atlet mengonsumsi 2x ikan dalam sehari karena disebutkan pada skenario bahwa atlet suka mengonsumsi ikan.
Sumber:
American College of Allergy, Asthma, and Immunology. https://acaai.org/allergies/types-allergies/food-allergy/types-food-allergy/egg-allergy
Kemp, A. S. (2007). Egg allergy. Pediatric Allergy and Immunology, 18(8), 696–702. doi:10.1111/j.1399-3038.2007.00679.x
Halo kelompok 3.3! Perkenalkan saya Gianna Tangkilisan (41160072) dari kelompok 3.6.
ReplyDeleteUntuk memenuhi kebutuhan mikronutrien dari Ani teman-teman merekomendasikan untuk mengonsumsi sport drink dengan kadar elektrolit tertentu sesuai dengan beratnya aktivitas yang dilakukan, apakah jenis sport drink yang teman-teman kelompok 3.3 ingin rekomendasikan untuk Ani serta penjelasannya secara singkat.
Terima kasih! Tetap semangat, stay healty:)
Terima kasih atas pertanyaannya Gianna. Saya Maharani Dyah K (41160095) dari kelompok 3.3 akan mencoba menjawab.
DeleteSport drink sendiri terdiri atas isotonic sport drink, hypertonic sport drink, dan hypotonic sport drink. Yang paling banyak dijual adalah jenis isotonik. Isotonic sport drink mengandung elektrolit dan karbohidrat. Pada penyusunan menu atlet, kami menggunakan getorade sebagai minuman elektrolit. Gatorade merupakan minuman isotonik yang sering diminum oleh para atlet saat istirahat. Minuman merek ini memiliki kandungan ion yang tinggi dan mengandung isotonik yang bisa mengembalikan energi dan menambah energi kita yang telah hilang pada saat kita berolah raga.
Baik, sudah terjawab. Terima kasih atas tanggapannya :)
DeleteSaya Novi NIM 41160019 dari kelompok 2.3.
ReplyDeleteBagaimana dengan kebutuhan cairan selama aktivitas biasa dan tidak berolahraga? Apakah ada perhitungannya? Jika iya berapa dan bagaimana? Terimakasih
Selamat siang Novi. Terimakasih pertanyaannya, saya Serapina Aolina Sayu (41160080) akan mencoba menjawab. Air merupakan salah satu bagian utama tubuh, 55-60% BB orang dewasa adalah air. Air berfungsi sebagai pengatur suhu, pelumas sendi, katalisator reaksi biologi dalam sel dan fasilitator pertumbuhan.. Kebutuhan cairan pada individu dengan kategori usia 15-30 tahun adalah 40 ml/kg BB. Dalam skenario atlet mempunyai berat badan 69 kg sehingga dapat dihitung jumlah kebutuhan cairan atlet selama aktivitas biasa yaitu 2.760 ml. Terimaksih.
Deletesumber : Briawan, D., Sedayu, T. R. and Ekayanti, I. (2011) ‘Kebiasaan minum dan asupan cairan remaja di perkotaan’, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 8(1), p. 36. doi: 10.22146/ijcn.17729.
Syafrizar and Welis, W. (2016) ‘Gizi Olahraga’, ILMU GIZI :Teori & Aplikasi, pp. 434–441. doi: 10.1016/0198-0254(79)90606-X.